14 Februari 2013 - #28


Sebelumnya saya tidak pernah memperdulikan hari kasih sayang, ga punya arti khusus di setiap tahun perayaan Valentine Day ini. Karena memang ga penting juga sih, dikasih cokelat, bunga, bunga deposito toh bisa dilakukan setiap hari ga harus setahun sekali di tanggal 14 Februari kan?


Tetapi!
Sejak tahun 2013 ini, tanggal ini jadi tanggal pengingat saya, tanggal pengingat karena merupakan hari dimana jantung saya nyaris copot, sekujur tubuh saya beku, dan pikiran saya menjadi kacau balau. Karena sore itu tepat di tanggal 14 Februari 2013 semuanya seakan berkesan dan penuh makna. Yap! saya berada di meja operasi bersama dokter dan tim medis yang akan menangani keluhan yang saya alami selama ini (myoma uteri).

Panik!
Seminggu sebelum pelaksanaan operasi ya, saya mengaku sangat panik, kalut, dan berbagai macam perasaan saya lakoni di kepala, sayang hanya di kepala, karena saya bukan orang yang dengan mudahnya menunjukkan kegundahgulanaan saya secara terang-terangan. Bahkan kegundahgulanaan saya berubah menjadi galau, gagal paham memang, tapi yasudahlah.

Seminggu sebelum operasi, harus membereskan beberapa tetek bengek duniawi. Menyelesaikan urusan percintaan , menyelesaikan urusan pekerjaan yang harus diserahterimakan oleh PIC bersangkutan sebelum saya tinggali untuk urusan Medical Leave, urusan Rumah Sakit dan Asuransi yang sampe sekarang belum kelar-kelar, dan urusan keluarga akan keputusan saya untuk operasi myoma uteri ini (karena operasi ini ditakutkan akan mengganggu rahim dan indung telur saya).

Pontang-panting!
Dari hal percintaan, balik lagi ke kerjaan yang dipenuhi dengan regroup, balik lagi ke urusan jadwal operasi (keluarga saya ga setuju karena operasi berjalan di malam hari), kalut, khawatir, jantung copot copot aja deh.

Paniknya belum kelar lagi!
Di hari H, ternyata nyokap dateng dari Medan. Makin aja jantung saya deg-degan seperti menandakan apa gitu. Untungnya sebelum operasi dimulai (saya masuk RS jam 9 pagi dan penjadwalan operasi jam 5 sore) saya ditemani oleh teman seperantauan, dia share sesuatu, saya bertanya sesuatu, dia meyakinkan semuanya akan berakhir dengan biasa, saya percaya dan saya merasa tenang.

Pra-Operasi.
Tepat pukul 16.30 WIB, seorang suster yang bernama entah siapa (maaf sus, kepanikan ini membutakan mata dan menulikan telinga saya sesaat), dengan perawakan sangat baik murah senyum membawa saya ke ruangan operasi yang entah berada di sayap mana Rumah Sakit tersebut. Saya dan Ibu diberikan penjelasan semacam brief sedikit mengenai jalannya operasi. Yang saya dengar hanya jika lampu berwarna merah menyala artinya operasi telah dimulai, perhatikan lampu nomer 3, karena saya berada diruangan operasi 3, selebihnya saya memikirkan hal lain yang sering disebut "kegugupan".

Tibalah saatnya saya memasuki ruangan yang sering disebut ruang pemulihan suhu udara disana sudah sangat dingin, minus mungkin. Saat itu saya hanya menggunakan sehelai baju operasi, ditawarkan untuk tiduran disebuah tempat tidur untuk rela dipreteli jarum infus pada lengan saya oleh dokter asisten Anastesi, lengan saya ditepuk-tepuk disangka empuk dan mendaratlah jarum itu di arteri lengan kiri saya. Beberapa kali saya bertanya kepada si asisten dokter Anastesi untuk mengusir kegelisahan dan rasa sakit ditusuk-tusuk, Alhamdulillah dia menanggapinya. Dia bertanya: "pertama kali operasi yah?", saya jawab dalam hati: "emang ada gitu yang mau berkali-kali operasi", tapi yang terutarakan: "iya, baru sekali ini", "for the first time toh", kembali dipertegas oleh nya.

Giliran dokter Anastesi yg datang ke tempat tidur dimana tangan saya sedang dipreteli jarum, dan bertanya basa-basi: "mau dibuat sadar atau engga?", "enaknya gimana aja deh dok...", jawab saya. Dia berteriak kepada asistennya: "GA yah, Bud".. pertanda pembiusan total yang saya akan jalani.

Memasuki meja operasi, sosok perempuan yg entah siapa menyuruh saya untuk jalan menuju meja operasi. Dan si asisten Anastesi yang baik hati itu melarangnya, dia bilang: "for the first time nih", saya ga ngerti harus bangga atau malu :|

Di Ruangan operasi 3.
Suhu di dalam ruangan ini semakin tinggi saja, dinginnya menusuk sampe ke tulang. Mereka bilang, tingkat dingin yg seperti ini dapat menghindari bakteri yang berkembang. Tubuh saya dipindahkan ke meja operasi, dr. Loren yang merupakan dr Anastesi sedang berusaha mengalihkan kepanikan dan kegelisahan saya dengan mengajak berbicara mengenai Myoma Uteri, gejalanya, dan keberadaannya kenapa selalu diidap oleh gadis-gadis mudah cantik *halah*. Saya mengajukan permintaan untuk dibuat penelitian, dan ketika percakapan mulai seru tiba-tiba dunia seakan menghilang sesaat. Saya terbangun dan tiba-tiba saja sudah berada di ruangan 3001 yang saya reservasi sebelumnya.

Operasinya sudah lewat...

Terima Kasih!
Myom berhasil diangkat, saya benar-benar kembali sadar pada pukul 5.00 WIB di tanggal 15 Februari 2013. Morfin berhasil bekerja dengan maksimal di tubuh saya. Di meja udah ada beberapa balon yang diberikan dari "partner in crime" saya di kantor. Tenggorokan mulai berasa kering dan akhirnya puasapun selesai.
Tidak henti-hentinya saya berucap syukur atas hari yang sudah berlalu itu,
Untuk kalian,
Semua yang telah hadir disaat aku berada di meja operasi, terima kasih yah, mungkin tanpa sadar saat saya sehat dulu tidak memperdulikan kalian, bahkan kalian rela menunggui operasiku kelar.
Untuk kalian,
Beberapa orang yang memberi semangat sebelum dan sesudah operasi, yang menyanyikan lagu I Will - Beatles, yang memberikan bacaan do'a, yang menguatkan saya untuk menghadapi operasi, yang selalu membuat saya tertawa sebelum melaksanakan operasi.
Untuk kalian,
Terimakasih juga kepada teman-teman yang telah hadir di pasca operasi saya, support dan doa kalian tidak akan pernah aku lupakan. Semoga kalian diberikan kebahagiaan dan kesehatan yang berlimpah, Amin!
Untuk kamu,
Hal yang paling unyu, di hari kedua setelah operasi. Yang menenangkan tidur di kala malam saat saya gelisah di tempat tidur Rumah Sakit yang baunya tidak bersahabat itu. Akhirnya, kamu unyu juga :p

Recovery!
Perjalanan operasi terlihat sangat melelahkan, tapi tenang karena masih ada hal lain yang harus dilalui, yak benar pemulihan!
Berhubung yah usus saya butuh mobilisasi pasca operasi, kalau terlalu kaku dikhawatirkan ususnya akan lengket dan akan membahayakan si pemilik tubuh *amit-amit*. Selain harus banyak gerak yang membutuhkan banyak niat dan kemauan serta doa (karena gerak itu sakit MEN!), juga harus banyak minum supaya pencernaan di usus lancar selancar air mengalir sampai jauh. Nah, ketakutan terbesar saya saat itu adalah susah BAB, bener aja beberapa hari setelah keluar dari RS saya engga bisa pup juga, nah tau dong yang rasanya gimana? Ditambah nyeri-nyeri bekas jaitan dibawah perut, sesempurnanya hidup masih ada yang bikin bete juga kan :')
Makanya, saya bolak-balik tuh minta do'a dari nyokap biar anak perawan satu-satunya ini diberi kelancaran dalam pencernaan :p

Akhirnya, selesai juga hari-hari berat. Alloh memang paling tau dan paling jitu memberikan pelajaran ke umatnya. Pelajaran berhargapun telah saya peroleh dibeberapa hari pra dan pasca operasi Myoma Uteri.

Ini pengalaman berharga yang ga akan pernah saya lupain, Thanks God!
Dari Umatmu yang bandel :)

14 Februari 2013 - #28 14 Februari 2013 - #28 Reviewed by Anggie Hasibuan on Februari 20, 2013 Rating: 5

2 komentar:

dhio mengatakan...

waw masalah duniawi percintaan pun bisa potang panting
kagak tau emank pacarnya udah mau koit gt
BTW nice story kok

jagan lupa singgah juga ke

http://pramudyadhio.blogspot.com/

twiras mengatakan...

hae Anggie :)

Diberdayakan oleh Blogger.