Aku Hanya Daun - #19

Di sebuah Taman disudut Ibukota..
Panggil saja aku “daun”, aku baru saja tumbuh menjadi pucuk di era suku Maya memulai kembali tahunnya yang baru, di tahun 2013.
Menjadi daun sangat menyenangkan, setiap pagi, siang dan sore aku selalu diberikan air yang cukup oleh sebuah mesin aku menyebutnya “manusia”. Air yang berlimpah sehingga diriku dan dedaunan lainnya dapat melakukan proses membentuk makanan sendiri, kita sering menyebutnya “berfotosintesis”.
Itu hanya sementara…
Aku dan dedaunan lainnya tinggal disebuah taman, yang juga dipenuhi dengan daun serta bunga.
Aku senang memperhatikan bunga, dia tampak cantik jika dipandang.Dari kelompok pohon yang aku tinggali saat ini, ada 5 bunga yang bertahan hidup dengan menumpang di batang. Mereka memberikan terapi yang menakjubkan setiap harinya, keindahannya, mekar kelopaknya, apalagi saat bermandikan embun pagi, aku terpukau dan mereka tampak sangat menakjubkan, sampai aku ternganga sampai angin kencang menghampiri helai daun dan menyadarkanku.
Aku itu hanya daun yang senang melihat keindahan seperti; bunga, mentari pagi, bulan yang menantang di saat penuh, bulan sabit yang indah di kala malam. Keindahan adalah salah satu cara terbaikku untuk tetap semangat menetap di taman tempat berkumpulnya manusia ini.
Manusia, aku menyebut mereka mesin. Di tempat aku tumbuh ini, aku dikelilingi oleh mereka. Mereka tidak pernah berhenti beraktivitas, setiap hari sejak aku tumbuh ke dunia ini aku memperhatikan mereka terutama salah satu manusia berperawakan aneh ini, dia satu-satunya manusia yang sangat kotor di taman ini dan tampak kesepian, bajunya lusuh berwarna hitam, rambutnya berantakan tak beraturan, dia sangat kurus dan tampak lunglai ketika berjalan. Dia, tidak pernah tidak hadir ditempatnya, sebuah joglo di sisi taman yang selalu direbahinya dengan sekarung yang entah apa isinya, sungguh manusia yang aneh. Semua tampak bahagia kecuali dia, ingin sekali aku menghampirinya dan bertanya kepadanya, manusia tua kenapa kau selalu tampak bersedih? Tapi, aku hanya daun, tidak punya kuasa atas itu.
Lalu, manusia lainnya bagaimana? Bahkan tidak ada yang menghampirinya, tidak satupun. Salah satu alasan kenapa aku tidak ingin dilahirkan menjadi daun, ketika melihat keindahan aku selalu silau dan takjub menikmati kebahagian akan keindahan itu, begitu aku melihat kesusahan dan kemuraman aku bahkan tidak bisa apa-apa.
Ini sebenarnya tempat apa? Aku pernah mendengar manusia yang sedang berbincang dengan manusia lainnya, mereka menyebut bumi sebagai tempat berpijak, dan menyebut tanah sebagai tempat aku dan tumbuhan lainnya hidup. Tapi, tempat apa ini? Ada banyak bermacam perasaan disini, dan yang mendominasi saat ini adalah ketakutanku. Saat ketakutan itu muncul aku tidak ingin menghadapinya, cukup berpaling dan kembali melihat bunga-bunga yang indah, Saat mereka tumbuh dan bermekaran bumi ini seperti berhenti, dan tertuju disatu titik, dengan scene dengan sinematografi yang sangat menarik. Tapi, keindahan itu sekali lagi Ternyata tidak bertahan lama, setelah bermekaran dengan sangat indahnya beberapa hari setelahnya jika tidak diperhatikan mekar itu akan layu, akan rontok, bunga itu tidak tampak seperti bunga lagi, dia tampak seperti manusia tua yang selalu membawa-bawa karung itu.
Ternyata, tidak hanya bunga yang bisa layu dan rontok, kaumku dedaunan juga bisa bernasib yang lebih parah, aku melihat dengan jelas, manusia yang entah iseng entah tidak mengerti bahwa ada kehidupan lain pada tumbuhan dan dengan mudahnya memetik daun-daun tepat disebelahku tumbuh. “hampir saja gumamku”.
Sebenarnya tempat apa bumi ini? Semuanya tampak tidak bersahabat dan tidak mengerti perasaan orang lain, tempat apa yang hidup didalam pura-pura buta dengan keadaan sekitarnya. Tempat apa ini? Yang tidak bisa menikmati keindahan dan tidak memperdikan ketidakbahagiaan, seharusnya, usahakan agar semuanya berbahagia.
Aku ingin saja menikmati keduanya, kebahagiaan dan ketidakbahagiaan, dengan ketidakbahagiaan harusnya bisa diubah menjadi kebahagiaan, aku ingin sekali berbuat seperti itu.
Tapi sayang, aku hanya daun.
Aku Hanya Daun - #19 Aku Hanya Daun - #19 Reviewed by Anggie Hasibuan on Januari 20, 2013 Rating: 5

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.