Mesin Waktu bernama Mudik

Sebagai anak perantauan, yang antara kampung halaman dan tempat tinggalnya sekarang dipisahkan oleh sebuah Selat, tentu saja sangat menyukai kata MUDIK. Mudik seakan menjadi luar biasa meskipun harus mengeluarkan kocek sedalam-dalamnya. Kesenangannya adalah, ketika bertemu kembali dengan tanah kelahiran, tempat dimana kamu dibesarkan dan kisah masa lalu yang mungkin belum terselesaikan atau bahkan sudah terselesaikan namun kita ingin me-rewind ingatan kita kembali.

Dan tibalah aku di Kota kelahiranku, Medan. Kota yang kini tak jauh beda seperti setahun lalu aku tinggalkan, masih tetap musim durian, masih tetap gerah, masih tetap kecil, masih  tetap banyak kuliner yang pantas dicicipi, hanya beberapa hal yang berbeda dan aku membencinya: kini RUKO (Rumah Toko) berdiri disetiap sudut kota. Pertanda apa ini?

Menyenangkan ketika kau sudah dewasa, punya hidup sendiri, dan mencoba untuk bertarung di luar kota kelahiranmu, kemudian kau kembali dengan membawa sesuatu yang kau banggakan, yakni hasil kerja kerasmu. Bukan, bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk menjadi kebanggaan bahwa kau bisa hidup di luar sana tanpa orang tua dan teman lama karena hasil kerja kerasmu sendiri. Kemudian kau kembali lagi bertemu dengan teman lamamu, membicarakan masa lalu kalian yang indah, meneruskan masa lalu kalian yang belum tuntas bahkan masa lalu yang kalian kombinasikan dengan masa sekarang. Menyenangkan ketika semua yang kalian impikan dahulu semuanya kini telah terkabulkan. Menyenangkan saat pembicaraan seru kalian dibumbui dengan berbagai macam bahasa, Indonesia, Padang dan Batak.

Ketika yang kau jalani saat ini seperti kau berada di Mesin waktu.
Kau datang ke masa lalumu dan harus kembali ke saat sekarang.

Urutan sang Mesin Waktu:
Lontong sayur lebaran.
Kue lebaran.
Orang tua yang menyenangkan.
Drama kedua kakak dengan suaminya.
Drama pertanyaan "kapan kawin".
Reuni teman SMA.
Botak Lu.
Ice Cream Fountain.
Mantan pacar.
Bandara Polonia.
Mie balap seafood.
Apotek.
Jalan Pagaruyung dan Penghuni Tamil.
Gang Suratman dan wajah-wajah baru.

Semuanya, seakan tidak berubah. Mengingatkanku setahun yang lalu saat kota ini kutinggalkan. Dan sedikit yang kusadari, kota ini tak segagah dahulu. Suatu saat aku akan kembali lagi.



Mesin Waktu bernama Mudik Mesin Waktu bernama Mudik Reviewed by Anggie Hasibuan on Agustus 22, 2012 Rating: 5

2 komentar:

Unknown mengatakan...

lain kali bermain mesin waktu, ajak serta temanmu, siapa tau ;)

Anggie Hasibuan mengatakan...

Siapa tau?

Diberdayakan oleh Blogger.