Review Saman

Novel yang di tulis oleh Ayu utami ini berkisah tentang seorang eks pastor yang berganti profesi menjadi seorang aktivis. Pergantian profesinya tersebut tidaklah beralasan, sebab alasannya kuat untuk membela kaum yang lemah dan karena itupulalah dia meninggalkan tugasnya sebagai pastor; dia tak ingin merusak nama baik gereja tempat dia menjadi pastor.

Setting cerita Saman ini, sekitar tahun 90an atau lebih gitu (masa rezim Orde Baru). Terlihat dari ceritanya bahwa demokrasi pada zaman itu sangatlah lemah, sehingga seseorang yang membela rakyat kecil di anggap penghianat oleh pemerintah saat itu. Kisah cinta Saman yang merupakan eks pastur ini pula yang membuat akhir ceritanya seperti menggantung, karena di akhir cerita tak diberitahukan apakah akhirnya Saman memilih Yasmin atau Laila yang dahulu kala pernah menjadi siswinya di tempat dia pernah berbagi pengalaman mengajar tentang agama.

Ceritanya sih seru, karena banyak misteri-misteri tak terungkap yang terjadi ketika Saman menghabiskan waktunya di daerah Prabumulih Palembang yakni Tanah kelahirannya. Tentang nama Saman itu sendiri juga, ternyata nama itu bukanlah nama aslinya, dia mengganti namanya setelah dia menjadi buronan pemerintah karena pembelaannya yang dianggap berlebihan kepada rakyat kecil, dulu namanya WISANGGENI dipanggil WIS.

Yang paling seru dari cerita ini adalah cerita masa kecil Wis yang benar-benar penuh dengan tanda tanya, sampai di akhir ceritapun anehnya misteri saat dia kecilpun tak terungkap. Itulah yang menyebabkan dia menjadi anak tunggal dan ayahnya belum berani menikah kembali sampai dia menjadi dewasa.

Awal pertama kali saya melihat novel Saman ini ketika sebuah forum tentang novel indonesia berbincang tentang Saman. Karena novel ini termasku novel lama, begitu ketemu di susunan rak toko buku akupun engga segan-segan untuk membelinya >> apalagi bahan covernya keren loh, kertasnya juga > entah kenapa beda dengan novel-novel lainnya.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.